Rabu, 09 Juni 2010

Semburan Lumpur Lapindo Terus Untuk Gush

Semburan Lumpur Lapindo terus menyembur sejak empat tahun lalu. Semburan ini kegiatan inti masalah. Bukankah tentang relokasi Jalan Raya Porong dan rel kereta api. Bukan tentang membeli dan menjual tanah korban lumpur Lapindo PT Minarak yang tidak juga salah. Masalah makelaran tanah Uruk. Pertanyaan kerusakan lingkungan. Tentang kondisi kesehatan warga sekitar ledakan yang lebih buruk. Soal kolam yang rusak.

Cluster masalah yang rumit, merajut kait, hanya dampak dari ledakan yang juga tidak berhenti. Jadi masalah seperti asap dan jelaga, sementara api adalah ya ini meledak. Kuantitatif dan kualitatif dari tingkat masalah bersama dengan bentangan waktu ledakan. The meledak lagi kiri, juga meningkatkan tingkat kuantitatif dan kualitatif. Contoh, masalah kerusakan tambak. Dalam setahun atau dua tahun setelah ledakan itu, mungkin belum begitu dirasakan. Tapi sekarang menjadi menyakitkan mulai menyebar tambak tercemar mengandung zat berbahaya pada ikan lebih berat.

Contoh lain, korban pertama masih mungkin sedikit tenang karena ada bantuan konsumsi uang. Tapi ketika Semburan Lumpur Lapindo terus menyembur, mereka harus berjuang hidup dan mati untuk dimakan. Ketika masih diberikan uang kontrak selama dua tahun, mereka tenang karena mereka dapat memiliki tempat tinggal. Tapi ketika rasio kontrak habis, mereka harus ngenger kepada sanak saudara.

Rasanya seperti, jika dua tahun yang lalu bahwa para korban tersebut dalam air sampai ke leher, sekarang sampai di bibir sehingga sedikit riak dalam air dapat membuat mereka kelelep. Ini berarti bahwa kondisi korban semakin parah. Dan lagi semprotan lumpur, akan semakin parah juga.

Demikian pula, sebuah kolam renang. Semakin lama akan melebar. Berarti bahwa pembebasan tanah untuk tas lumpur baru akan dilanjutkan. Berarti bahwa warga yang menjadi korban karena para pengungsi juga akan meningkat. Setahun atau dua tahun hanya dapat ditambahkan sekitar 100 hektar, bagaimana kalau semburan sampai 30 tahun kemudian? Apa yang tidak mungkin bahwa separuh Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Temple jadi tas lava.

Jadi, sekarang harus dilakukan adalah upaya untuk menghentikan semburan lumpur. Tidak perlu debat siapa yang salah dari pencurahan ini karena tidak akan memecahkan masalah. Sebaliknya, menciptakan rantai-berpinak masalah, kedowo Ulo meskipun Semburan Lumpur Lapindo terus menyembur sampai hari ini.

http://carissaputri.com/news/lapindo-mudflow-continues-to-gush.htm

1 komentar:

  1. masa'membiayai pernikahan anakx kira2 1 M kuat tp memberikan kompensasi kpd korban lumpur lapindo mshh ja g kuat...

    BalasHapus